Hak & Kewajiban Pasien Selaku Konsumen Kesehatan
Saat ini kasus Prita Mulyasari vs RS Omni International Tangerang tengah mendapat sorotan. Seperti yang ia tuliskan pada e-mailnya yang kemudian dikutip beberapa media, awalnya Prita datang ke RS tersebut dengan keluhan pusing dan demam tinggi. Prita disarankan rawat inap di RS tersebut berdasarkan hasil lab yang menunjukkan angka trombosit 27.000 dan oleh karena itu didiagnosa sebagai demam berdarah. Belakangan, hasil lab trombosit 27.000 dinyatakan direvisi. Masalah kemudian berkembang seperti yang sudah kita ketahui dari pemberitaan di berbagai media.
Cukup sering kita dengar permasalahan serupa, dengan inti permasalahan hubungan pasien dengan dokter dan rumah sakit. Dimana pasien adalah konsumen kesehatan, sedangkan dokter dan RS adalah produsen yang menyediakan layanan kesehatan tersebut.
Membaca kasus-kasus seperti ini, pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apa sebetulnya hak dan kewajiban dari masing-masing pihak ? Pasien dan dokter tentu sama-sama berharap bisa menjalin kerja sama yang baik dan tidak berakhir di persidangan.
Tampaknya ada paradigma yang perlu diperbaiki agar pasien memandang dirinya sendiri pada posisi yang lebih baik. Selama ini, mungkin berakar dari jaman penjajahan Belanda yang bahkan membedakan ”derajat” dokter pribumi dengan dokter asli Belanda, posisi dokter disetarakan bagai dewa. Titah dokter adalah keharusan, sehingga pasien tidak sempat (atau tidak mau?) berpikir bahwa pasien sesungguhnya PENENTU keputusan tindakan medis.
Posted: June 8th, 2009 under B61-Hak & Kewajiban Pasien Selaku Konsumen Kesehatan.
Comments: none




Yaa… memang lebih enak berkegiatan di Athena pada pagi hari, kala matahari belum bersinar terik. Sebanyak 32 anak berusia 3 – 10 tahun dari 25 keluarga, berkumpul di ruang atas untuk mendengarkan penjelasan tentang kuda dari Manajer Athena Stable, Pak Toni
Apa yang terbayang bila mendengar kata sushi ? Hm… jenis makanan khas Jepang yang satu ini memang lezat dan unik. Kalau kursus membuat sushi ? Asyik pastinya. Kalau kursus sushinya bareng ibu dan anak ? Wah… pasti seru dan heboh !
Dulu kesibukan orangtua kita mencari sekolah dimulai pada bulan Juni, di saat ujian akhir telah selesai dilaksanakan. Kini masa-masa kesibukan itu sudah jauh bergeser. Spanduk-spanduk pendaftaran sekolah sudah mulai berkibar di awal bulan Desember, yang memampangkan jadwal pendaftaran, pembayaran, dan tes masuk. Dan tentu saja sistem pengajaran yang dianut oleh sekolah itu. Ada sekolah nasional, internasional, nasional plus, <i>active learning</i>. Ooooooh… bisa pusing kepala para orangtua jaman sekarang. Karena pusing kepala inilah, maka topik obrolan di milis-milis berkutat seputar cara mencari sekolah untuk anak-anak. 
